Menemukan Penginapan Sederhana di Bandara KLIA2, Kuala Lumpur

backpacker di malaysia
Tulisan yang satu ini gak kalah lamanya bersarang di otak saya, padahal kalau mau di tulis bisa menambah daftar tulisan di blog saya. Entah karena saya yang sibuk pergi sana-sana(sok sibuk-red). Entah saya yang habis berpergian nyampe rumah sudah bingung lihat tanggalan dan merencanakan pergi ke destinasi berikutnya. Atau saya nya aja yang malas menulis, hehehe... Baiklah, ini pengalaman pergi ke luar negeri. Yah, dikarenakan tiket promo AA

Inilah Gambaran Singkat Jika Kamu Ingin Backpacker ke Flores

backpacker di flores
Sudah berbulan-bulan rasanya perjalanan ke dataran Flores hanya singgah di otak tanpa sedikitpun bergeser ke tulisan. Yah...rasa malas ini sudah menjadi kebiasaan kalo dibiarkan berlarut-larut. Walaupun perjalanan yang tidak begitu lama, namun saya bisa merasakan bahagianya, sedihnya, terkejutnya, campur aduk menjadi satu hingga setiap momen itu bisa tergambar jelas dibenak saya. Karena banyak yang harus saya ceritakan, maka saya rangkum untuk garis besarnya saja ya, biar memori ini tidak pernah hilang di otak saya.

BALADA “IWAK PE...”

“Jelajah Gizi
Masih ingatkah akan lagu yang iwak peyek sego jagung (ikan peyek nasi jagung)? Lagu yang hampir pernah tenar di semua kalangan baik pejabat kelas teras hingga tukang becak pinggir jalan hampir mengenal lagu itu. Lagu yang dimulai dengan alunan khas dangdut jawa hingga bisa menjadi bait lagu berirama bahasa indonesia seakan mengingatkan kita akan makanan khas yang daerah jawa Timur. 

Ikan Pari atau orang Jawa lebih familiar dengan iwak pe, makanan yang hampir ada disemua sudut kota Surabaya. Apalagi dengan banyak bermunculannya warung-warung yang menyajikan sego sambel atau dalam bahasa Indonesia bermakna nasi sambal. Seakan pamor ikan-ikan laut menjadi ikutan naik seiring merangkaknya popularitas sego sambel di Surabaya ini. Berawal dari begitu larisnya salah satu warung sego sambel yang ada di kawasan Wonokromo sebelah gedung Darmo Trade Center(DTC) yang biasa orang menyebutnya “Sego sambel Mak Yeye”. Akhirnya banyak bermunculan sego sambel sego sambel yang lain. Apalagi banyak dari warga Surabaya yang begitu menggemari masakan pedas, maka tak jarang banyak warung-warung yang menjajakan dengan slogan “Sego Sambel Iwak Pe”.

Iwak Pe sendiri sudah menjadi terkenal ketika di pasar ikan tersebut menjadi panggangan atau ikan yang siap diolah tanpa harus mengolahnya dari mentah. Banyak sekali olahan ikan pari atau iwak pe yang sudah menjadi makanan khas Surabaya. Diantaranya “Botok Iwak Pe”, “Iwak Pe bumbu kuning”, “Penyetan Iwak Pe”, dan lain-lain. Khusus menu yang terakhir yaitu “Penyetan Iwak Pe” sudah menjadi makanan khas Kota Surabaya di malam hari. Sambalnya yang pedas dan juga ikannya yang gurih serta tulang ikan nya yang mempunyai tekstur krispi membuat “Iwak Pe” mempunyai banyak penggemar, baik muda maupun tua. Jika kita memasaknya dengan baik dan benar maka bau amis yang ada di dalam ikan tersebut akan tergantikan dengan aroma sedap nan gurih yang akan membuat lidah bergoyang.

Iseng-iseng di hari libur pun saya dengan sahabat saya ingin sekali mengolah ikan pari ini. Tentu saja yang tidak membeli ikan tersebut dalam keadaan mentah, tetapi dalam keadaan sudah menjadi panggangan atau sudah dipanggang dalam bara kayu yang cukup lama. Kenapa saya lebih memilih ikan yang sudah dipanggang? Sebagai orang yang masih awam cara mengolah ikan pari tak ada salahnya saya memilih untuk lebih praktisnya.

Bagaimana cara mengolah iwak pe atau ikan pari?


Siapkan ikan pari yang sudah dalam keadaan dipanggang, ini untuk mengurangi bau amis dan juga lendir yang berlebihan dalam ikan pari. Lumuri jeruk nipis diseluruh bagian ikan. Setelah itu rendam ikan kedalam bumbu-bumbu yang telah dihaluskan diantaranya bawang merah, ketumbar, kunyit, jahe, dan daun jeruk dalam waktu yang lumayan lama. Bumbu bisa ditambahkan sereh dan bawang putih. Setelah dirasa bumbu sudah merasuk kedalam ikan, ikan bisa digoreng maupun diolah menjadi masakan yang lain. 

Kebetulan saya dan teman saya mengolah “iwak pe” tersebut menjadi “penyetan iwak pe”. Jadi saya menyiapan sambal bawang uleg yang terdiri dari lombok besar, lombok kecil, bawang putih, bawang merah, terasi, dan garam gula. Setelah sambal yang kita buat selesai, tak lupa kita juga menyiapkan tempe goreng sebagai pelengkap penyetan. Ikan pe yang telah digoreng ditaruh diatas cobek dan “dipenyet” menggunakan uleg sambal tersebut. Yummmm...akhirnya jadilah juga “Penyetan Iwak Pe” ala chef Emil. Soal rasa sepertinya tidak kalah dengan penyetan-penyetan yang beredar di warung-warung pinggir jalan. Struktur tulang ikan yang krispi ditambah dengan nasi yang masih hangat membuat orang untuk tergoda makan lebih dari satu piring.


Setelah mengetahui bagaimana cara mengolah ikan pari, yuk ketahui apa saja sih manfaat yag terkandung didalam ikan pari ini.

Beberapa kandungan ikan pari diantaranya Protein, Asam lemak, Omega 3, Vitamin D, Kalsium, Fosfor, Iodin, Magnesium, Potassium dan Zat besi. Selain itu ikan pari mempunyai kadar lemak yang rendah, jadi cocok buat kamu yang lagi diet.

Selain kandungannya yang beraneka ragam ada juga lho manfaat yang bisa kamu rasakan jika memakan ikan pari, diantaranya :

  1. Menjaga dan menunjang pertumbuhan otak janin pada ibu hamil.
  2. Menunjang pertumbuhan Tulang dan gigi serta menjaganya tetap kuat (bersifat mencegah osteoporosis.
  3. Melancarkan sirkulasi / peredaran darah yang sangat cocok untuk penderita hipertensi.
  4. Mencegah tubuh kekurangan darah (anemia)
  5. Menyembuhkan penyakit asma / sesak nafas
  6. Mendukung pertumbuhan otot dan sel syaraf pada anak
  7. Meningkatkan kecerdasan dan pola pikir.
“Jelajah Gizi , Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa” - See more at: http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Jelajah-Gizi-4-Membedah-Nilai-Gizi-Masakan-Minahasa#sthash.OGiyAgtu.dpuf
“Jelajah Gizi , Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa” - See more at: http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Jelajah-Gizi-4-Membedah-Nilai-Gizi-Masakan-Minahasa#sthash.OGiyAgtu.dpuf

“Jelajah Gizi , Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa” - See more at: http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Jelajah-Gizi-4-Membedah-Nilai-Gizi-Masakan-Minahasa#sthash.OGiyAgtu.dpuf
Sumber kandungan dan manfaat ikan pari :
http://khasiatq.blogspot.co.id/2015/10/7-khasiat-dan-manfaat-ikan-pari-untuk.html

“Jelajah Gizi , Jelajah Gizi Minahasa, Sarihusada, Nutrisi Untuk Bangsa” 
http://www.sarihusada.co.id/Nutrisi-Untuk-Bangsa/Aktivitas/Jelajah-Gizi/Jelajah-Gizi-4-Membedah-Nilai-Gizi-Masakan-Minahasa 



Gunung Panderman, Gunung yang bisa mengobati kegelisahanmu

daftar gunung untuk pemula
Puncak sejengkal kaki
Berawal dari kegalauan dari sahabat semasa SD yang menjalani kehidupan layaknya sinetron-sinetron yang tayang di tv. Dan keinginannya untuk bisa mendaki gunung biar katanya bisa menikmati kesunyian diatas beribu meter di atas tanah. Sudah lama dia menginginkan itu, ya sekitar lima bulan lamanya setelah pendakian ku ke Gunung Lawu. Antara perasaan senang dan khawatir, takut terjadi apa-apa jika aku harus berdua dengannya, secara aku sendiri belum mahir-mahir juga berkegiatan di alam bebas.

Ketika aku memutuskan untuk Ke Gunung Kelimutu (yang belum sempat kutulis di blog ku), aku turut mengajaknya. Tapi mungkin kesiapan yang belum matang, apalagi wilayah Gunung tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit, akhirnya dia pun tak sempat ikut. Jadwal pekerjaan yang bertabrakan membuat kita susah untuk menyatukan jadwal kami berdua.

Hari berganti hari, saat terkahir kulihat dia update status di facebook dan berencana ingin resign, akhirnya akupun memutuskan untuk naik gunung dalam waktu dekat. Padahal secara fisik, tubuhku belum ada persiapan yang matang. Belum lagi berat badanku yang bertambah membuat aku kesulitan untuk harus naik gunung lagi.


Akhirnya aku menghubungi teman-teman yang sudah kuanggap bisa menemani kami naik gunung. Rencana memang kami ingin mendaki Gunung Arjuna dengan cara naik hartop sampai ke Pondokan. Aku pikir dengan naik hartop kita tidak susah-susah jalan untuk mencapai puncaknya, ini juga mengingatkan aku dengan cerita teman yang pernah mencapai Gunung Sorak di Korea dengan kereta gantung. Semakin hari semakin dimudahkan saja dengan fasilitas yang nyaman jika ingin menikmati ketinggian gunung dan semoga saja bisa terjadi di Indonesia. Menjelang hari H, temanku mengabarkan dia harus masuk kerja di Hari Sabtu dan otomatis aku memutar otak untuk bisa mendaki gunung yang mudah dijangkau jika harus memulai pendakian awal di Hari Sabtu malam.
Gunung Panderman dan Gunung Penanggungan, dua gunung itu menjadi alternatif aku untuk memutuskan gunung mana yang harus didaki pertama kami untuk sahabatku. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kami memutuskan Gunung Panderman menjadi gunung yang akan kita daki.


Gunung Panderman yang memiliki ketinggian 2045mdpl terletak di daerah Batu. Rute kendaraan kesana dari Surabaya yaitu mengarah ke Malang sampai ke pertigaan Bentoel belok ke kanan lurus terus walaupun menemukan rambu dilarang lurus. Hingga pertigaan yang mengarahkan kita untuk sampai ke alun-alun kota Batu. Dari alun-alun kota Batu lurus kearah deretan pegunungan hingga menemukan perempatan jalanan agak mengecil. Ikuti jalan hingga kanan jalan terdapat gapura yang bertuliskan Wisata Panderman. Jika kesulitan untuk menemukannya, tanya saja ke penduduk sekitar arah menuju Wisata Panderman, pasti dengan ramah mereka menunjukkan arahnya.

Selepas dari gapura, kita akan diberhentikan oleh penduduk sekitar. Kami diwajibkan parkir disitu jika memakai kendaraan matic, jika pakai manual bisa langsung melanjutkan perjalanan hingga pintu pos registrasi. Kami pun memulai perjalan sekitar mau magrib, jalan yang macet ke arah Malang membuat kami menghabiskan banyak waktu di jalan. Hujan gerimis membuat langkah motor akmi tidak secepat biasanya.
Tak jauh dari pos registrasi, kita akan menemukan sumber air yang lumayan deras mengalir. Karena dari Surabaya kita tidak membawa perbekalan air, maka kami memutuskan untuk mecari botol kosong untuk di isi air untuk memasak makanan.
 
Bertemu teman baru
Di gunung ini terdapat 3 plang, yang menandakan pos-pos yang ada di gunung ini. Rutenya dari pos registrasi – Latar Ombo – Watu Gede – Puncak Basundara. Jalanan dari Latar Ombo hingga ke Watu Gede relatif masih aman menanjaknya. Walaupun bisa dibilang perjalanan saya paling lama diantara yang lainnya. Hingga pada akhirnya kamipun terbagi menjadi 2 tim. Tim pertama sampai ke puncak saat itu juga, sedangkan aku harus menyerah karena kehabisan tenaga sebelum Puncak. Jalanan dari Watu Gede ke Puncak memang bisa dibilang sangatlah terjal. Mungkin dari awal aku meremehkan ketinggian Gunung ini yang membuat aku sangat amat berat berjalan. Mungkin faktor U dan faktor kegemukan membuat aku harus beristirahat beratapkan langit. Tenaga yang semakin habis dan mata yang mulai mengantuk, kami berdua mulai menggelar sleeping bag dan matras. Tuhan…jangan turunkan hujan di area ini sebelum aku bertemu dengan yang lainnya, pinta kami sebelum memejamkan mata.

Langitpun pun berganti dari gelap menjadi terang. Kami berdua mulai mengurangi perbekalan yang kami bawa untuk sampai ke puncak. Dengan kondisi yang semakin fit, kami melanjutkan perjalanan. Hingga sampailah kami berdua di Puncak Basundara dan bertemu dengan yang lainnya. Keadaan di puncak banyak sekali monyet-monyet liar yang galaknya amit-amit. Lengah sedikit saja makanan kita diambil oleh monyet-monyet itu. Tuntas sudah misi untuk bisa menemani sahabat SD yang kebelet pengen mendaki gunung. Dan yang ku dengar dia akan mendaki Gunung Welirang beberapa hari kedepan. Terimakasih Tuhan, aku masih bisa merasakan bagaimana mendaki gunung lagi dengan orang tersayang.